Asep Supriadi

aku manusia biasa yang tak punya keahlian / kelebihan apapun, tak bermaksud mengajari / menggurui, hanya belajar dan sedikit sharing kepada pembaca yang budiman, semoga apa yang dituangkan dalam blog ini bermanfaat bagi kita, aamiiinn...

Minggu, 17 November 2013

EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM).



BAB I
PENDAHULUAN

Dalam melakukan fungsinya sehari-hari, neuron-neuron yang ada diotak menghantarkan impuls saraf satu dengan yang lain, baik dari korteks serebri ke perifer maupun sebaliknya. Aktifitas listrik ini bersifat ritmik, terus menerus dan diduga berasal dari talamus yang berfungsi semacam pacemaker, yang dipancarkan ke korteks serebri melalui neuron dan sinaps-sinapsnya. Intensitas kegiatan listrik ini berubah sesuai dengan tingkat aktivitas otak, tetapi selalu terdapat aktivitas listrik dasar yang bersumber dari talamus tadi. Untuk merekam aktivitas listrik tersebut, dipakai alat Elektroensefalografi (EEG) yang dapat merekam aktivitas listrik setelah sampai di korteks.
Otak manusia merupakan sumber dari segala pikiran, emosi, persepsi dan tingkah laku. Otak terdiri dari jutaan elemen mikroskopik yang disebut saraf yang menggunakan bahan kimia dalam mengatur aktivitas listrik di dalam otak. Tahapan embrional yang penting dalam perkembangan  otak adalah neurulasi, proliferasi, migrasi, mielinisasi dan sinatogenesis. Keadaan mulai lahir sampai usia 5 tahun akan terjadi pertumbuhan fisik yang cepat diikuti dengan perkembangan otak. Maturitas dari otak yang paling tinggi pada batang otak dan terakhir pada kortek serebri. Setelah usia 5 tahun maka pertumbuhan  otak berjalan lambat, dan progresivitasnya untuk mencapai usia pertengahan masa kanak-kanak  biasanya antara usia 6-8  tahun. Sinaptogenesis terjadi secara cepat pada kortek serebri saat 2 tahun dari kehidupan. Myelinisai paling cepat saat usia 2 tahun pertama kemudian berlangsung lebih lambat setelah itu.
Neuron- neuron yang berhubungan (fungsi motorik, sensorik dan kognitif) mengalami mielinisasi yang besar dimulai saat usia anak masuk sekolah (6 tahun) dan sel saraf area ini terjadi mielinisasi yang lengkap antara usia 6-12 tahun. Lebih jauh lagi hal ini dekat sekali hubungannya dengan maturasi hipokampus di mana terjadi mielinisasi pada anak-anak.



BAB II
EEG

2.1       Pengertian EEG
            Electroencephalogram atau EEG merupakan alat yang telah digunakan sejak tahun 1924 untuk mendeteksi kebohongan seorang criminal dari seluruh dunia. Sebuah EEG digunakan untuk mengetes dan merekam aktivitas elektrik dari otak manusia. Terdapat sensor khusus (elektroda) yang dipasang di kepala dan dikaitkan dengan kabel ke sebuah computer. Kemudian computer akan merekam aktivitas elektrik otak ke layar atau kertas dalam bentuk garis-garis bergelombang. Dalam kondisi tertentu, seperti keterkejutan, dapat dilihat perubahan hasilnya dalam pola normal aktivitas elektrik otak di layar. Yang tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas fungsi maupun struktur lapisan otak bagian luar.
Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk diagnosa penyakit yang berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun penggunaan teknik modern seperti CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG tetap berguna mengingat sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan sangat murah harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain, sinyal EEG dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang terhadap rangsangan luar. 

2.2       Tujuan EEG
Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk diagnosa penyakit yang berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun penggunaan teknik modern seperti CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG tetap berguna mengingat sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan sangat murah harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain, sinyal EEG dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang terhadap rangsangan luar. 

2.3       Fungsi EEG
Berikut fungsi EEG :
A.       Mendiagnosis epilepsi dan tanda-tandanya.
B.        Mengecek permasalahan pada orang yang mengalami kehilangan kesadaran.
C.        Mencari tahu apakah seseorang dalam keadaan koma.
D.       Mempelajari penyebab susah tidur.
E.        Melihat aktivitas otak ketika seseorang menerima obat anestesi selama operasi otak.
F.         Membantu orang yang memiliki masalah psikis, seperti rasa gugup, dan kesehatan mental.

2.4       Persiapan Sebelum Pemeriksaan
Sebelum melakukan tindakan EEG, maka pasien ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, diantaranya yaitu :
A.     Identitas penderita harus dicatat lengkap
B.     Tingkat kesadaran penderita harus dicatat, untuk menghindari salah interpretasi EEG
C.     Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus diidentifikasi, oleh karena beberapa obat-obatan tertentu yang dapat mempengaruhi frekuensi maupun bentuk gelombang otak. -Saat terbaik perekaman adalah pada saat bebas obat sehingga gelombang otak yang didapat adalah gelombang otak yang bebas dari pengaruh obat
D.     Premedikasi, dosis dan berapa lama sebelum perekaman harus diidentifikasi dengan jelas.
E.      Pasien dalam keadaan tenang dan rileks
F.      Kulit kepala dalam keadaan bersih, bebas kotoran, debu, minyak dan kulit yang mati. sampolah rambut serta membilas dengan air bersih saat mandi sore atau pagi hari sebelum di lakukan test
G.     Perhatikan adanya bekas luka, bekas kraniotomi
H.     Hindari makanan yang mengandung kafein ( seperti kopi, teh, cola, dan coklat)  sedikitnya 8 jam sebelum test. Makanlah dalam porsi kecil  sebelum test, sebab gula darah rendah ( hypoglycemia) dapat menghasilkan test abnormal
I.        Tidur dapat mempengaruhi hasil EEG maka ushakan agar pasien tidak tertidur saat dilakukan test, jika anak-anak akan di EEG coba untuk tidur sebentar tepat sebelum dilakukan test
J.        Penyuluhan penderita sebelum perekaman tentang tujuan dilakukannya EEG, apa yang dilakukan teknisi terhadap dirinya sebelum dan saat perekaman, apa yang harus dilakukan penderita saat perekaman dan apa yang akan dirasakan oleh penderita saat perekaman
K.     Identifikasi hasil neuroimaging yang sudah dilakukan.


2.5       Prosedur Cara Penggunaan EEG

A.       Sebelum melakukan prosedur perekaman EEG sebaiknya diketahui Standard Minimal.
B.        Perekaman EEG yaitu memakai minimal 16 channel yang bekerja secara simultan. Setiap area di otak bisa memberikan pola yang sama atau berbeda pada waktu yang bersamaan, dan menurut pengalaman diperlukan perekaman pada minimal 8 area di otak secara simultan untuk mendapatkan distribusi pola EEG. Perekaman dengan 8 channel secara simultan diperkirakan cukup mencakup permukaan otak untuk menghindari misinterpretasi.
C.        Memakai minimal 17 elektrode pencatat. Semua elektroda ini harus mencakup area frontal, central, parietal, oksipital, temporal, auricular atau mastoid, vorteks dan elektroda ground.
D.       Kedua system monopolar (referensial) dan bipolar (diferensial) harus digunakan secara rutin. Setiap system montage mempunyai keunggulan dan kekurangan, sehingga penggunaan kedua system sekaligus adalah esensial untuk mendapatkan informasi yang akurat.
E.        Harus ada prosedur buka tutup mata. Aktifitas alfa dapat memberi informasi tentang fungsi abnormal otak. Aktifitas paroksismal dapat pula dicetuskan oleh prosedur ini.
F.         Mesin EEG harus dikalibrasi di awal dan di akhir rekaman. Perubahan setting alat selama perekaman harus dicatat.
G.       Lama perekaman minimal 15-20 menit pada penderita sadar. Bila ada prosedur stimulasi fotik, hiperventilasi dan tidur maka lama perekaman harus ditambah. EEG adalah sample waktu dari kehidupan seseorang, dan waktu 20 menit adalah waktu yang sangat singkat untuk menarik suatu kesimpulan dari suatu kerja atau suatu fungsi otak seseorang. Oleh karena itu semakin lama perekaman maka semakin besar kemungkinan kita untuk menemukan abnormalitasnya.
2.6       Prinsip Kerja dari EEG
Elektroda EEG ukurannya lebih kecil daripada elektroda ECG. Elektroda  EEG dapat diletakkan secara terpisah pada kulit kepala atau dapat dipasang pada  penutup khusus yang dapat diletakkan pada kepala pasien.

            Untuk  meningkatkan kontak  listrik antara elektroda  dan kulit kepala digunakan  elektroda jelly atau pasta. Bahan elektroda yang umumnya digunakan adalah perak klorida. EEG direkam dengan cara membandingkan tegangan antara elektroda aktif pada kulit kepala dengan elektroda referensi pada daun telinga atau bagian lain dari  tubuh. Tipe merekam ini disebut monopolar. Tetapi tipe merekam bipolar lebih  populer dimana tegangan dibandingkan antara dua elektroda pada kulit kepala. Berikut ini diperlihatkan blok diagram dari peralatan EEG.

A.    Amplifier
Amplifier digunakan karena EEG harus memiliki penguatan yang tinggi dan karakteristik noise yang rendah sebab amplitudo tegangan EEG sangat rendah. Amplifier yang digunakan harus bebas dari interferensi sinyal dari kabel listrik atau dari peralatan elektronik yang lain. Noise sangat berbahaya di dalam kerja EEG karena gelombang elektroda yang dilekatkan pada kulit kepala hanya beberapa mikrovolt ke amplifier. Amplifier digunakan untuk meningkatkan amplitudo hingga beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali dari sinyal yang lemah yang hanya beberapa mikrovolt. Rangkaian dalam sederhana dari amplifier EEG diperlihatkan pada Gambar 3.

B.     Kontrol Sensitivitas
Keseluruhan sensitivitas dari sebuah alat EEG adalah penguatan dari  amplifier dikalikan dengan sensitivitas dari alat penulisan. Jika sensitivitas alat penulisan adalah 1 cm/V, amplifier harus mempunyai keseluruhan penguatan 20.000  untuk 50 μV sinyal untuk memantulkan untuk menghasilkan nilai penguatan diatas.
Langkah-langkahnya adalah kapasitor digabungkan. Sebuah alat EEG mempunyai dua tipe dari kontrol penguatan. Pertama adalah variabel kontinu dan digunakan untuk menyamakan sensitivitas semua channel. Kedua adalah kontrol beroperasi  sejalan dan dimaksudkan untuk meningkatkan atau mengurangi sensitivitas dari suatu  channel oleh sesuatu yang dikenal. Kontrol ini biasanya dikalibrasi dalam desibel.  Penguatan amplifier normalnya diset sehingga sinyalnya sekitar 200 μV dipantulkan  pena diatas daerah linearnya.

C.     Filter
Ketika direkam oleh elektroda, EEG mungkin berisi kerusakan otot dalam  kaitannya dengan kontraksi dari kulit kepala dan otot leher. kerusakannya besar dan tajam sehingga menyebabkan kesulitan besar dalam klinik dan interpretasi otomatis  EEG. Cara paling efektif untuk mengurangi kerusakan otot adalah dengan menyarankan pasien untuk rileks, tapi ini tidak selalu berhasil. Kerusakan ini umumnya dihilangkan menggunakan low pass filter. Filter pada alat EEG mempunyai beberapa pilihan posisi yang biasanya ditandai dengan tetapan waktu.  Suatu nilai satuan tetapan waktu yang diset untuk kontrol frekuensi rendah adalah 0,03; 0,1; 0,3; dan 1,0 detik. Tetapan waktu ini sesuai dengan 3 dB menunjuk pada frekuensi 5,3; 1,6; 0,53; dan 0,16 Hz. Di atas frekuensi cut-off dan dikontrol dengan filter high- frekuensi. Beberapa nilai dapat dipilih, diantaranya adalah 15, 30, 70, dan 300 Hz.

D.    Sistem Penulisan
Sistem penulisan pada EEG umumnya menggunakan sistem ink writing tipe  direct-writing ac recorder yang menyediakan respon frekuensi hingga 60 Hz pada 40 mm puncak ke puncak. Tipe umum dari direct-recorder adalah tipe stylus yang langsung menulis pada kertas yang digerakkan di bawahnya. Pada umumnya di dalamsistem direct-writing recorder, digunakan galvanometer yang mengaktifkan lengan penulis yang disebut pen atau stylus.
Mekanismenya dimodifikasi dari pergerakan D’Arsonval meter. Sebuah kumparan dari kawat tipis berputar pada suatu bingkai aluminium segi-empat dengan ruang udara antara kutub suatu magnet permanen. Poros baja yang dikeraskan dikaitkan dengan bingkai kumparan sedemikian sehingga kumparan berputar dengan friksi minimum. Paling sering, jewel dan poros digantikan oleh taut- band sistem. Suatu pen ringan terikat dengan kumparan. Spring berkait dengan bingkai mengembalikan pen dan kumparan selalu ke suatu titik acuan. Ketika listrik mengalir sepanjang kumparan, suatu medan magnet timbul yang saling berhubungan dengan medan magnet dari  magnet permanen. Hal itu menyebabkan kumparan mengubah sudut posisinya seperti pada suatu motor listrik. Arah perputaran tergantung dari arah aliran arus di dalam kumparan. Besar defleksi dari pen adalah sebanding dengan arus yang mengalir melalui kumparan.
Penulisan stylus dapat mempunyai tinta di ujungnya atau dapat mempunyai suatu ujung yang menjadi kontak dengan suatu sensitif elektro, tekanan yang sensitif atau panas kertas sensitif. Jika suatu penulisan lengan dari panjang yang ditetapkan digunakan, sumbu koordinat akan menjadi kurva. Dalam rangka mengkonversi kurva linier dari ujung penulisan ke dalam kurva gerak lurus, berbagai mekanisme telah dipikirkan untuk mengubah panjang efektif dari  lengan penulisan sehingga bergerak ke tabel perekaman.
Instrumen taut-band lebih disukai dibandingkan dengan instrumen poros dan jewel karena lebih menguntungkan untuk meningkatkan sensitivitas listrik, mengeliminasi friksi, lebih baik pengulangannya dan meningkatkan daya tahannya.

E.     Noise
Amplifier EEG dipilih untuk level minimum derau yang dinyatakan dalam kaitan dengan ekuivalen tegangan masuk. Dua mikrovolt sering dinyatakan dapat diterima oleh perekam EEG. Noise berisi komponen dari semua frekuensi dan perekaman noise dapat meningkatkan bandwith dari sistem. Oleh karena itu, penting untuk membatasi bandwith yang dibutuhkan untuk menghasilkan sinyal.

F.      Penggerak Kertas
Hal ini disediakan oleh suatu motor sinkron. Sebuah mekanisme penggerak kertas yang stabil dan akurat perlu dan normal untuk mempunyai beberapa kecepatan kertas yang tersedia untuk dipilih. Kecepatan pada 15, 30, dan 60 mm/s penting. Beberapa mesin juga menyediakan kecepatan di luar daerah ini.

G.    Saluran
EEG direkam secara serempak dari sebuah susunan yang terdiri atas banyak elektroda. Elektroda dihubungkan untuk memisahkan amplifier dan sistem penulisan.  Mesin EEG komersial dapat memiliki sampai 32 saluran, walaupun 8 atau 16 saluran lebih umum.

2.7       Pembacaan Hasil
Mendapatkan rekaman EEG yang baik dan benar adalah salah satu dari tujuan utama dari pemeriksaan EEG selain interpretasi yang benar. EEG adalah alat untuk menunjang tegaknya diagnosa, selama kita dapat memperoleh rekaman yang baik dan benar. Rekaman yang tidak baik justru akan menyesatkan tegaknya diagnosa.

2.8       Sinyal Electroencephalogram (EEG)
Pada pembacaan hasil EEG perlu diperhatikan :
A.       Lokasi / distribusi
B.        Frekuensi
C.        Pola / gambaran khas
D.       Usia
E.        Bangun
F.         Tidur

Sinyal EEG dapat diketahui dengan menggunakan elektroda yang dilekatkan pada kepala. Tegangan sinyalnya berkisar 2 sampai 200 Î¼V, tetapi umumnya 50 Î¼V. Frekuensinya bervariasi tergantung pada tingkah laku. Daerah frekuensi EEG yang normal rata-rata dari 0,1 Hz hingga 100 Hz, tetapi biasanya antara 0,5 Hz hingga 70 Hz. Variasi dari sinyal EEG yang terkait dengan frekuensi dan amplitudo mempengaruhi diagnostik. Daerah frekuensi EEG dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian untuk analisis EEG, yaitu :
1.          Gelombang di posterior  :
a.           Gelombang Alpha
Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik. Gelombang alfa terlihat normal pada saat bangun dan mata tertutup (tidak tertidur)
Distribusi : bagian posterior kepala (oksipital, parietal dan temporal posterior) dapat meluas ke sentral, verteks dan  midtemporal       
Karakteristik :  sinusoidal, waxes and wanes, Amplitudo : 20 – 70 uV ( Ka>Ki)
Reaktivitas :  Amplitudo  berkurang saat buka  mata,  aktivitas mental sedangkan frekuensi  berkurang saat mengantuk
Anak : Frekuensi tergantung usia
   3-4 bln : 3.5 – 4.5 Hz            3 thn : 8 Hz
   12 bln  : 5 – 6 Hz                   9 thn :  9 Hz
   24 bln  : 7 Hz                        15 thn: 10 Hz

b.          Gelombang lambda
Karakteristik : dapat terlihat saat bangun, buka mata, polaritas positif, asimetri (normal), di daerah oksipital,  jelas terlihat usia 2 – 15 thn, dan jarang terlihat pada usia  tua . Gelombang Lambda mempunyai amplitudo : 20 – 50 uV .
Reaktivitas : gelombang ini tampak jika melihat suatu objek,dan  menghilang saat  tutup mata.
2.          Gelombang Mu
Gelombang ini sering disebut juga comb rhythm, rolandic alpha. Frekuensi seperti Alpha (8-10 Hz) terdapat pada 20 % orang dewasa, sering pada usia 8 – 16 tahun dan lokasinya di daerah sentral, dapat tampak  unilateral atau bilateral.
Karakteristik : Bentuk lengkung,  amplitudonya 20 – 60 uV, gelombang ini akan menurun frekuensinya atau hilang dengan gerakan aktif, pasif atau stimulus taktil kontralateral, maupun berpikir  tentang  gerakan. Gelombang ini berasal dari korteks sensorimotor.
3.          Gelombang Beta
Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik. Gelombang ini secara normal ditemukan ketika siaga atau menjalani pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines atau pengobatan anticonvulsants.  Distribusi  terutama frontal dan central dengan amplitudo : 10 – 20 uV (dewasa) dan 60 uV (anak usia 12-18 bulan). Gelombang Beta dapat lebih jelas terlihat saat mengantuk, maupun atas pengaruh obat-obatan (barbiturat, benzodiazepin).  Perbedaan amplitude kanan dan kiri lebih dari 35 % merupakan suatu abnormalitas.
4.          Gelombang Theta
Gelombang  Theta mempunyai frekuensi : 4 – 7 Hz, di daerah  frontal atau fronto-central  (tutup mata) , dan Temporal  (4 – 7 Hz) biasanya pada orang tua .Gelombang theta jelas terlihat saat hiperventilasi,mengantuk dan tidur. Amplitudo : 30 – 80 uV
5.          Gelombang Delta
Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus per detik. Gelombang secara normal ditemukan hanya pada saat sedang tidur dan  anak-anak muda

2.9       Hasil Pemeriksaan EEG

Normal
A.       Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa dari aktivitas elektrik
B.        Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari aktivitas elektrik dan tidak ada gelombang yang lambat
C.        Jika pasien dirangsang dengan cahaya  (photic) selama test maka hasil gelombang tetap normal.
A.    Abnormal
B.       Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak serupa dari aktivitas elektrik
C.       EEG menunjukkan gambaran gelombang abnormal yang cepat atau lambat, hal ini mungkin disebabkan oleh tumor otak, infeksi/peradangan, injuri, strok, atau epilepsi. Ketika seseorang mempunyai epilepsi dengan pemeriksaan EEG ini bisa diketahui daerah otak bagian mana yang aktivitas listriknya tidak normal. Namun pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak ada serangan kejang bukan pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jadi EEG dengan sendirinya tidak cukup untuk  mendiagnosa penyakit neurology tetapi perlu dengan pemeriksaan yang lain
D.      Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG. EEG yang abnormal dapat disebabkan kelainan di dalam otak yang tidak hanya terbatas pada satu area khusus di otak, misalnya intoksikasi obat, infeksi otak (ensefalitis), atau penyakit metabolisme (Diabetik ketoasidosis)
E.       EEG menunjukkan grlombang delta atau gelombang teta pada orang dewasa yang  terjaga. Hasil ini  menandai adanya injuri otak
F.       EEG tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam otak ( a “ flat/” atau “ garis lurus” ). Menandai fungsi otak telah berhenti, yang mana  pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya (penurunan) aliran darah atau oksigen di dalam otak. Dalam beberapa hal, pemberian obat penenang dapat menyebabkan gambaran  EEG flat. Hal ini juga dapat dilihat di status epilepsi setelah pengobatan diberikan.


BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Electroencephalografi adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat pencatatan yang peka sedangkan grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram. Jadi, aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut Elektro-Ensefalografi (EEG). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14 siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital. Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, jika subyek membuka matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14 siklus/detik). Gelombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek.
Keadaan tidur (alamiah maupun akibat induksi obat) mengaktifkan paroksismalitas yang umum maupun fokal. Dalam keadaan tidak tidur hanya kira-kira sepertiga individu dengan diagnosa klinik epilepsy memperlihatkan paroksismalitas spesifik, 15 % memperlihatkan EEG yang normal dan sisanya memperlihatkan perlambatan atau percepatan yang spesifik.

Sabtu, 16 November 2013

Sejarah dan Perkembangan Keperawatan

PENGANTAR KONSEP DASAR KEPERAWATAN


SEJARAH PERKEMBANGAN
Perkembangan Keperawatan di Dunia

Tahap perkembangan :

-          Mother instink
-          Keperawatan berdasarkan kepercayaan pada roh-roh (animisme)
-          Kepercayaan bahwa penyakit yang disebabkan kemarahan para dewa.
-          Perubahan kehidupan manusia.
Terjadi perubahan dalam kepercayaan pada dewa-dewa. sakit disebabkan karena kemarahan dewa-dewa sehingga di dirikan kuil = RS. Fenomena ini terlihat pada sejarah bangsa mesir & Cina.

o   Bangsa mesir : menyembah dewa isis (mampu menyembuhkan penyakit)
o   Bangsa cina     : penyakit disebabkan oleh setan, perawat tidak diperkenankan untuk merawat  orang sakit.
o   Ketabiban (+ 14 abad SM) telah dikenal pembalutan bidai  (spalk), hygien   umum & anatomi Manusia
o   Berkembang di India, Mesir, Yahudi, Tiongkok & Roma.

Diakones & Philantrop (+ 400 SM)

Diakones (orang tua dan janda yg melayani orang sakit, membantu penderita yang memberikan perawatan di rumah penduduk. Perkembangan ilmu kedokteran dan keperawatan, Kemajuan peradaban manusia dimulai ketika manusia mengenal agama sehingga mempengaruhi peradaban manusia  yang berdampak positif terhadap keperawatan.

Pada permulaan masehi, agama kristen mulai berkembang, pada masa ini keperawatan mengalami kemaJuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama kristen, kemajuan terlihat jelas pada zaman pemerintahan constantyn agung dimana beliau mendirikan xenodhoecim/hospes. Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya RS terkenal di Roma yaitu Monastic Hospital. ( Bangsal, tempat orang cacat, miskin dan yatim piatu )

Memasuki abad VII masehi, agama islam tersebar ke berbagai pelosok negara hingga afrika. Pada masa Ini juga di jazirah arab berkembang pesat ilmu pengetahuan sepertt ilmu pasti, kimia, hygiene dan obat-obatan (Rafidah).

Pada permulaan abad XVI, struktur dan orientasi Masyarakat menngalami perubahan, orientasi kekuasaan (perang), akibatnya banyak gereja & tempat ibadah tutup, sehingga untuk merawat orang sakit oleh orde agama.
Hal ini berdampak negatif, gereja dan tempat ibadah ditutup yang menyebabkan kekurangan tenaga perawat, karena sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan perawat, bekas wanita Jalanan (wts) diterima bekerja sebagai perawat. Disisi lain adanya perang sepertt perang salib berdampak positif terhadap perkembangan keperawatan. Untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga suka rela yang dipekerjakan sebagai perawat ttd : orde agama, wanita yang mengikuti suami ke medan perang turut merawat orang sakit.

Pengaruh perang salib terhadap keperawatan mulai di kenal konsep P3K, pada masa itu ada 3 RS yang berperan :

1.      Hotel Dieu di lion.
Pekerjaan yang dilakukan oleh mantan WTS yang telah bertobat.   RS ini berperan besar dalam kemajuan keperawatan. Hal ini disebabkan pekerjaan perawat digantikan oleh perawat yang terdidik melalui pendidikan dari RS itu.
2.      Hotel Dieu di Paris.
Pekerja perawatan dilakukan oleh orde agama, sesudah revolusi Prancis, orde agama dihapuskan & diganti oleh orang-orang bebas yang tidak terikat pada agama. Pelopor yang terkenal di RS adalah : Genevieve Bouguet.
3.      ST.Thomas Hospital tahun 1123 M.
Florence Nigtingale memulai karirnya dan memperbaharui keperawatan. Pada abad pertengahan XVIII keperawatan mulai banyak dipercaya orang, miss Floren N.            Florent N lahir pada tahun 1820 dari keluarga kaya dan terhormat, ia tumbuh berkembang di inggris dengan pendidikan yang cukup. Hal tersebut di tentang keras,ia diterima mengikuti kursus pendidikan perawat di usia 31 thn.

Perkembangan di Inggris

Seusai perang, Florence N kembali ke inggris, inggris membuka jalan bagi kemajuan dan perkembangan keperawatan, dimana di pelopori oleh Florence dan diikuti oleh negera-negara lain. Pada tahun 1840 inggris mengalami perubahan besar dalam keperawatan, dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan.

Mis : pendidikan perawat di london hospital. Tapi kurikulum masih kurang teratur. Pada tahun 1820 perkembangan perawat mengalami kemajuan pesat berkat Florence N yang mendirikan sekolah perawat modern. Konsep ini yang mempengaruhi pendidikan keperawatan dewasa ini.

Kontribusi Florence N :

·         Nutrisi (penting), mengembangkan pendidikan keperawatan.
·         Rekreasi bagi orang sakit.
·         Menngidentifikasi kebutuhan personal.
·         Menetapkan standar manajemen RS & pasien.

Syarat-syarat untuk mejadi perawat pada waktu itu :
-          Harus suci badan dan pikiran.
-          Sabar dan harus pandai memelihara dan merawat orang sakit.

Ilmu Ketabiban dan Pengobatan:

Ilmu ini telah mencapai kemajuan sejak 1200 M.
Hal ini dapat kita ikuti dalam buku yang berjudul “sanskritvedas” yang memuat :

-                Bermacam-macam obat dan cara penanganannya.
-              Cara mengerjakan pembedahan.
-              Daftar obat-obat racun beserta obat-obat penawarnya.
-              Uraian tentang macam-macam penyakit dan kebersihan diri.


TIONGKOK

Tahun 300 SM :  Terkenal suatu negara yang telah tinggi peradabannya. Misalnya : Membuat kain sutera.

ILMU KETABIBAN DAN PENGOBATAN
Telah mengenal penyakit kelamin (Go & Syphilis).Orang yang terkenal : “Seng lung” (Bapak Pengobatan) Semboyannya : “Lihat,dengar,,rasa”. YAHUDI KUNO

Zaman purba bangsa Yahudi kuno berdiam di Palestina. Ilmu pengetahuan mereka banyak diperoleh dari bangsa Mesir. Misalnya : cara memberi pengobatan. Orang yang terkenal dalam lapangan ini adalah “ MUSA” (pembuat UU Yahudi)

UU Kesehatan Bangsa Yahudi :
-              Pemeriksaan dan pemilihan bahan makanan yang akan dimakan
-              Pengadaan cara pembuangan kotoran manusia.
-              Pelarangan makan daging babi karena dapat menimbulkan suatu penyakit.
-              Memberitahukan kepada yang berwajib bila ada penyakit yang berhubungan dengan tindakan.

Seorang Antropolog terkenal bernama “Virchow (1821-1902)” menamakan Musa sebagai tabib yang terbesar disegala masa.

INDIA

Pada zaman purba , india sudah memiliki RS. Hal ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Raja “Asoka”. Perawatan telah mencapai kemajuan, perawatan ini dibantu oleh pembantu-pembantu tabib serta anggota-anggota perawatan laki-laki dan prempuan yang telah mendapat pendidikan perawatan----- perawat.

YUNANI

Bangsa yunani ----- memuja dan memuliakan banyak dewa. Misalnya : Dewa asklepios (dewa p’ngobat) Putri dari dewa -----Hygeia (dewi Kesehatan)

Orang-orang yang terkenal dalam ketabiban :
1.      Hipocrates
Jasanya :
-Penyakit bukan disebabkan setan
- Mengajarkan tentang makanan si sakit
- Penderita jiwa dirawat secara kemnusiaan

2.      Plato – Ahli filsafat : M’nrgkan otak sbg pst kesadaran.
3.      Aristoteles (ahli Filsafat)
Ahli jiwa dan ilmu hayat--- yang menyelidiki anatomi dengan cara membedah binatang-binatang.

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perkembangan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, sejak masa penjajahan kolonial belanda, inggris dan jepang. Pada masa pemerintahan kolonial belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi (Velpleger). Dengan dibantu Zieken Oppaser (penjaga orang sakit) yang bekerja di RS “Binnen Hospital” di Jakarta (1799). Memelihara kesehatan staf dan tentara belanda.

Pendiri RS-RS ini usaha Daendels di Jakarta, semarang dan surabaya. Ternyata tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan karena tujuannya semata-mata untuk kepentingan tentara belanda. Berbeda ketika VOC berkuasa, Gubernur Jendral inggris “ Raffles” (1811-1816) memperhatikan kesehatan rakyat, dengan semboyan “Kesehatan adalah milik manusia” sehingga melakukan berbagai upaya memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi. Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan belanda peningkatan kesehatan mengalami kemajuan.

Di Jakarta tahun 1819 didirikan beberapa RS, RS Stadsverband di glodok tahun 1919, kemudian RS pindah ke salemba (RSCM). RSCM merupakan RS Pusat rujukan nasional dan pendidikan nasional.

Pada tahun 1816-1942 berdiri pula beberapa RS swasta, yaitu :
1.      RS persatuan Gereja Indonesia (PGI) Milik misionaris Katolik.
2.      RS.ST.Carolus.
3.      RS.ST.Baromeus di bandung.
4.      RS.Elizabeth di semarang.

Beriringan berdirinya RS maka didirikan pula : Sekolah perawat, RS Cikini (tahun 1906), menyelenggarakan pendidikan juru rawat. RSCM (1912) Sekolah perawat pertama yang berdiri di indonesia.

Pekerjaan perawat pada masa belanda dan inggris dikerjakan oleh perawat yang telah terdidik. Dengan kehadiran sekutu jepang menyebabkan perkembgn keperawatan mengalami kemunduran, maka pada masa jepang, tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak terdidik untuk menjaga orang sakit. Dimana pimpinan RS sebelumnya orang belanda dan kemudian diambil alih orang jepang.

Efeknya :
Obt sangat kurang sehingga wabah penyakit timbul di mana-mana. Bahan balutan sangat kurang sehingga daun pisang dan pelepah pisang digunakan sebagai bahan balutan. Pembangunan di bidang kesehatan mulai tahun 1949, RS dan balai pengobatan mulai di bangun.

Pada tahun 1952, sekolah perawat berdiri, sekolah guru perawat dan sekolah perawat (se-tingkat smp). Pendidikn keperawatan profesional didirikan pada tahun 1962 dengan didirikan Akper (milik Depkes di Jakarta) yang bertujuan untuk menghasilkan perawat profesional pemula.

Bersamaan ini pula didirikan Akper (Depkes) di Ujung pandang, bandung dan palembang.

Sejak adanya kesepakatan lokakarya nasional (januari 1983) tentang pengakuan dan diterimanya keperawatan sebagai suatu profesi dan pendidikannya berada pada pendidikan tinggi, terjadi perubahan mendasar dalam pandangan tentang pendidikan keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi menekankan pada penguasaan keterampilan, tetapi lebih pada penumbuhan dan pembinaan sikap.

Tahun 1996 terdapat Akper sejumlah 227 buah. Dan ketentuan profesional keperawatan disertai dengan landasan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperatawan. Tahun 1983 merupakan tahun kebangkitan profesi keperawatan di indonesia. sebagai perwujudan laoka karya tersebut, tahun 1984 diberlakukan kurikulum nasional untuk Diploma III keperawatan.
Hal ini sejalan dengan UU No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 32 ayat 3 dan 4.

Tahun 1985 dibuka Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran UI dan kurikulum pendidikan tenaga keperawatan jenjang S1 juga di syahkan. Tahun 1992 merupakan tahun penting bagi profesi keperawatan, karena secara hukum keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi diakui dlm UU yaitu yg dikenal dgn UU No.23  thn 1992 ttg kes.
Tahun 1995 dibuka lagi Program Studi Ilmu Keperawatan di Indonesia yaitu di Universitas pajajaran Bandung dan Fakultas Kedokteran UI berubah menjadi Fakultas Keperawatan. Tahun 1998 dibuka kembali program S2 keperawatan yang ketiga yaitu Program  Studi Ilmu Keperawatan di universitas Gadjah Mada Yogyakarta.. Kurikulum Ners disahkan. Digunakannya kurikulum ini merupakan hasil pembaharuan  kurikulum S1 keperawatan tahun 1985.

Tahun 1999 program S1 kembali dibuka, yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Airlangga Surabaya, PSIK universitas Brawijaya Malang, PSIK di universitas Hasanudin Ujung Pandang, PSIK di universitas SUMUT, dan PSIK di universitas  Diponegoro jawa Tengah.

Tahun 2000 diterbitkan SK Menkes No.647 tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan sekaligus kekuatan hukum bagi tenaga perawat dalam menjalankan praktik keperawatan secara profesional.


BERPIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN

-              Berpikir kritis adalah reflektif, pemikiran yang masuk akal tentang masalah keperawatan tanpa ada solusi dan difokuskan pada keputusan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
-              Belajar untuk berpikir  secara kreatif dan mendalam memampukan perawat untuk merawat klien sebagai advokat.
-              Berpikir secara kritis menantang individu untuk menelaah asumsi tentang informasi terbaru.
-              Berpikir dan Belajar sebagai perawat profesional, perawat harus selalu melihat dan berpikir ke depan. Untuk berpikir secara kritis membuat perawat mampu belajar dan untuk secara positif mempengaruhi praktik keperawatan.

Model Berpikir Kritis

Kataoka-Yahiro dan Saylor (1994).
Telah mengembangkan suatu model tentang berpikir kritis untuk penilaian keperawatan.

Dasar pengetahuan Khusus.

-              Komponen pertama berpikir kritis adalah dasar pengetahuan khusus perawat dalam keperawatan.
-              Dasar pengetahuan beragam sesuai dengan program pendidikan dasar keperawatan dari jenjang mana perawat diluluskan sdan setiap gelar tingkat lanjut yang didapatkan perawat.

Pengalaman
·               Komponen kedua dari model bepikir kritis adalah pengalaman dalam keperawatan Kecuali perawat mempunyai kesempatan untuk berpraktek di dalam lingkungan klinik dan membuat keputusan tentang perawat klien, berpikir kritis tidak akan pernah terbentuk. Ketika perawat harus menghadapi klien, informasi tentang kesehatan  dapat diketahui dari mengamati, merasakan, berbicara dengan klien.

Kompetensi
Kompetensi berpikir kritis adalah proses kognitif yang digunakan perawat untuk membuat penilaian keperawatan.

Ada 3 tipe kompetensi :
1.       Berpikir kritis umum
2.       Berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis
3.       Berpikir  kritis spesifik dalam keperawatan.

Sikap Untuk berpikir Kritis
·               Berpikir kritis adalah sikap yang merupakan aspek sentral dari pemikir kritis. Sikap ini adalah nilai yang harus cara kritis ditunjukkan keberhasilannya oleh pemikir kritis.
·               Individu harus menunjukan keterangan kognitif untuk berpikir secara kritis, tetapi juga penting untuk memastikan bahwa keterangan digunakan secara adil dan bertanggung jawab.

Standar B’pikir Kritis
Mencakup standar intelegtual dan profesional.

Paul (1993) menemukan bahwa standard inteleqtual menjadi universal untuk berpikir kritis.
Ketika perawat memikirkan masalah klien, penting sekali menggunakan standard ini.

Kemampuan Berpikir Kritis :
·         Berpikir secara aktif dengan menggunakan inteligensia, pengetahuan dan keterampilan diri untuk menjawab pertanyaan.
·         Dengan cermat mengggali situasi dengan mengajukan dan menjawab pertanyaan yang relevan.
·         Berpikir untuk diri sendiri dan secara cermat menelaah berbagi ide.

Komponen Berpikir Kritis Dalam Keperawatan
Dasar Keperawatan Khusus dalam Keperawatan :Pengalaman Dalam Keperawatan.

KOMPOTENSI BERPIKIR KRITIS
1.      Kompotensi umuma
2.      Kompotensi khusus dlm situasi kritis
3.      Kompotensi khusus dlm kep

SIKAP UTK BERPIKIR KRITIS :
o   Percaya diri
o   Mandiri
o   Keterbukaan
o   t.gg gugat
o   Berani m’ngambil resiko
o   Disiplin
o   Ketekunan
o   Kreativitas
o   Rasa ingin tahu
o   Kerendahan hati

STANDAR UTK BERPIKIR KRITIS :

1.      Standar Intelektual
2.      Jelas
3.      Tepat
4.      Spesifik, t’buka
5.      Akurat, adekuat
6.      Relevan, signifikan
7.      Masuk akal, mendalam
8.      Konsisten, luas
9.      Logika, komplet

Standar Profesional :
-  Kriteria etis untuk penilaian keperawatan
-  Kriteria untuk evaluasi, tanggung jawab profesional.



TERIMA KASIH