Asep Supriadi

aku manusia biasa yang tak punya keahlian / kelebihan apapun, tak bermaksud mengajari / menggurui, hanya belajar dan sedikit sharing kepada pembaca yang budiman, semoga apa yang dituangkan dalam blog ini bermanfaat bagi kita, aamiiinn...

Sabtu, 16 November 2013

Sejarah dan Perkembangan Keperawatan

PENGANTAR KONSEP DASAR KEPERAWATAN


SEJARAH PERKEMBANGAN
Perkembangan Keperawatan di Dunia

Tahap perkembangan :

-          Mother instink
-          Keperawatan berdasarkan kepercayaan pada roh-roh (animisme)
-          Kepercayaan bahwa penyakit yang disebabkan kemarahan para dewa.
-          Perubahan kehidupan manusia.
Terjadi perubahan dalam kepercayaan pada dewa-dewa. sakit disebabkan karena kemarahan dewa-dewa sehingga di dirikan kuil = RS. Fenomena ini terlihat pada sejarah bangsa mesir & Cina.

o   Bangsa mesir : menyembah dewa isis (mampu menyembuhkan penyakit)
o   Bangsa cina     : penyakit disebabkan oleh setan, perawat tidak diperkenankan untuk merawat  orang sakit.
o   Ketabiban (+ 14 abad SM) telah dikenal pembalutan bidai  (spalk), hygien   umum & anatomi Manusia
o   Berkembang di India, Mesir, Yahudi, Tiongkok & Roma.

Diakones & Philantrop (+ 400 SM)

Diakones (orang tua dan janda yg melayani orang sakit, membantu penderita yang memberikan perawatan di rumah penduduk. Perkembangan ilmu kedokteran dan keperawatan, Kemajuan peradaban manusia dimulai ketika manusia mengenal agama sehingga mempengaruhi peradaban manusia  yang berdampak positif terhadap keperawatan.

Pada permulaan masehi, agama kristen mulai berkembang, pada masa ini keperawatan mengalami kemaJuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama kristen, kemajuan terlihat jelas pada zaman pemerintahan constantyn agung dimana beliau mendirikan xenodhoecim/hospes. Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya RS terkenal di Roma yaitu Monastic Hospital. ( Bangsal, tempat orang cacat, miskin dan yatim piatu )

Memasuki abad VII masehi, agama islam tersebar ke berbagai pelosok negara hingga afrika. Pada masa Ini juga di jazirah arab berkembang pesat ilmu pengetahuan sepertt ilmu pasti, kimia, hygiene dan obat-obatan (Rafidah).

Pada permulaan abad XVI, struktur dan orientasi Masyarakat menngalami perubahan, orientasi kekuasaan (perang), akibatnya banyak gereja & tempat ibadah tutup, sehingga untuk merawat orang sakit oleh orde agama.
Hal ini berdampak negatif, gereja dan tempat ibadah ditutup yang menyebabkan kekurangan tenaga perawat, karena sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan perawat, bekas wanita Jalanan (wts) diterima bekerja sebagai perawat. Disisi lain adanya perang sepertt perang salib berdampak positif terhadap perkembangan keperawatan. Untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga suka rela yang dipekerjakan sebagai perawat ttd : orde agama, wanita yang mengikuti suami ke medan perang turut merawat orang sakit.

Pengaruh perang salib terhadap keperawatan mulai di kenal konsep P3K, pada masa itu ada 3 RS yang berperan :

1.      Hotel Dieu di lion.
Pekerjaan yang dilakukan oleh mantan WTS yang telah bertobat.   RS ini berperan besar dalam kemajuan keperawatan. Hal ini disebabkan pekerjaan perawat digantikan oleh perawat yang terdidik melalui pendidikan dari RS itu.
2.      Hotel Dieu di Paris.
Pekerja perawatan dilakukan oleh orde agama, sesudah revolusi Prancis, orde agama dihapuskan & diganti oleh orang-orang bebas yang tidak terikat pada agama. Pelopor yang terkenal di RS adalah : Genevieve Bouguet.
3.      ST.Thomas Hospital tahun 1123 M.
Florence Nigtingale memulai karirnya dan memperbaharui keperawatan. Pada abad pertengahan XVIII keperawatan mulai banyak dipercaya orang, miss Floren N.            Florent N lahir pada tahun 1820 dari keluarga kaya dan terhormat, ia tumbuh berkembang di inggris dengan pendidikan yang cukup. Hal tersebut di tentang keras,ia diterima mengikuti kursus pendidikan perawat di usia 31 thn.

Perkembangan di Inggris

Seusai perang, Florence N kembali ke inggris, inggris membuka jalan bagi kemajuan dan perkembangan keperawatan, dimana di pelopori oleh Florence dan diikuti oleh negera-negara lain. Pada tahun 1840 inggris mengalami perubahan besar dalam keperawatan, dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan.

Mis : pendidikan perawat di london hospital. Tapi kurikulum masih kurang teratur. Pada tahun 1820 perkembangan perawat mengalami kemajuan pesat berkat Florence N yang mendirikan sekolah perawat modern. Konsep ini yang mempengaruhi pendidikan keperawatan dewasa ini.

Kontribusi Florence N :

·         Nutrisi (penting), mengembangkan pendidikan keperawatan.
·         Rekreasi bagi orang sakit.
·         Menngidentifikasi kebutuhan personal.
·         Menetapkan standar manajemen RS & pasien.

Syarat-syarat untuk mejadi perawat pada waktu itu :
-          Harus suci badan dan pikiran.
-          Sabar dan harus pandai memelihara dan merawat orang sakit.

Ilmu Ketabiban dan Pengobatan:

Ilmu ini telah mencapai kemajuan sejak 1200 M.
Hal ini dapat kita ikuti dalam buku yang berjudul “sanskritvedas” yang memuat :

-                Bermacam-macam obat dan cara penanganannya.
-              Cara mengerjakan pembedahan.
-              Daftar obat-obat racun beserta obat-obat penawarnya.
-              Uraian tentang macam-macam penyakit dan kebersihan diri.


TIONGKOK

Tahun 300 SM :  Terkenal suatu negara yang telah tinggi peradabannya. Misalnya : Membuat kain sutera.

ILMU KETABIBAN DAN PENGOBATAN
Telah mengenal penyakit kelamin (Go & Syphilis).Orang yang terkenal : “Seng lung” (Bapak Pengobatan) Semboyannya : “Lihat,dengar,,rasa”. YAHUDI KUNO

Zaman purba bangsa Yahudi kuno berdiam di Palestina. Ilmu pengetahuan mereka banyak diperoleh dari bangsa Mesir. Misalnya : cara memberi pengobatan. Orang yang terkenal dalam lapangan ini adalah “ MUSA” (pembuat UU Yahudi)

UU Kesehatan Bangsa Yahudi :
-              Pemeriksaan dan pemilihan bahan makanan yang akan dimakan
-              Pengadaan cara pembuangan kotoran manusia.
-              Pelarangan makan daging babi karena dapat menimbulkan suatu penyakit.
-              Memberitahukan kepada yang berwajib bila ada penyakit yang berhubungan dengan tindakan.

Seorang Antropolog terkenal bernama “Virchow (1821-1902)” menamakan Musa sebagai tabib yang terbesar disegala masa.

INDIA

Pada zaman purba , india sudah memiliki RS. Hal ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Raja “Asoka”. Perawatan telah mencapai kemajuan, perawatan ini dibantu oleh pembantu-pembantu tabib serta anggota-anggota perawatan laki-laki dan prempuan yang telah mendapat pendidikan perawatan----- perawat.

YUNANI

Bangsa yunani ----- memuja dan memuliakan banyak dewa. Misalnya : Dewa asklepios (dewa p’ngobat) Putri dari dewa -----Hygeia (dewi Kesehatan)

Orang-orang yang terkenal dalam ketabiban :
1.      Hipocrates
Jasanya :
-Penyakit bukan disebabkan setan
- Mengajarkan tentang makanan si sakit
- Penderita jiwa dirawat secara kemnusiaan

2.      Plato – Ahli filsafat : M’nrgkan otak sbg pst kesadaran.
3.      Aristoteles (ahli Filsafat)
Ahli jiwa dan ilmu hayat--- yang menyelidiki anatomi dengan cara membedah binatang-binatang.

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Perkembangan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, sejak masa penjajahan kolonial belanda, inggris dan jepang. Pada masa pemerintahan kolonial belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi (Velpleger). Dengan dibantu Zieken Oppaser (penjaga orang sakit) yang bekerja di RS “Binnen Hospital” di Jakarta (1799). Memelihara kesehatan staf dan tentara belanda.

Pendiri RS-RS ini usaha Daendels di Jakarta, semarang dan surabaya. Ternyata tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan karena tujuannya semata-mata untuk kepentingan tentara belanda. Berbeda ketika VOC berkuasa, Gubernur Jendral inggris “ Raffles” (1811-1816) memperhatikan kesehatan rakyat, dengan semboyan “Kesehatan adalah milik manusia” sehingga melakukan berbagai upaya memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi. Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan belanda peningkatan kesehatan mengalami kemajuan.

Di Jakarta tahun 1819 didirikan beberapa RS, RS Stadsverband di glodok tahun 1919, kemudian RS pindah ke salemba (RSCM). RSCM merupakan RS Pusat rujukan nasional dan pendidikan nasional.

Pada tahun 1816-1942 berdiri pula beberapa RS swasta, yaitu :
1.      RS persatuan Gereja Indonesia (PGI) Milik misionaris Katolik.
2.      RS.ST.Carolus.
3.      RS.ST.Baromeus di bandung.
4.      RS.Elizabeth di semarang.

Beriringan berdirinya RS maka didirikan pula : Sekolah perawat, RS Cikini (tahun 1906), menyelenggarakan pendidikan juru rawat. RSCM (1912) Sekolah perawat pertama yang berdiri di indonesia.

Pekerjaan perawat pada masa belanda dan inggris dikerjakan oleh perawat yang telah terdidik. Dengan kehadiran sekutu jepang menyebabkan perkembgn keperawatan mengalami kemunduran, maka pada masa jepang, tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak terdidik untuk menjaga orang sakit. Dimana pimpinan RS sebelumnya orang belanda dan kemudian diambil alih orang jepang.

Efeknya :
Obt sangat kurang sehingga wabah penyakit timbul di mana-mana. Bahan balutan sangat kurang sehingga daun pisang dan pelepah pisang digunakan sebagai bahan balutan. Pembangunan di bidang kesehatan mulai tahun 1949, RS dan balai pengobatan mulai di bangun.

Pada tahun 1952, sekolah perawat berdiri, sekolah guru perawat dan sekolah perawat (se-tingkat smp). Pendidikn keperawatan profesional didirikan pada tahun 1962 dengan didirikan Akper (milik Depkes di Jakarta) yang bertujuan untuk menghasilkan perawat profesional pemula.

Bersamaan ini pula didirikan Akper (Depkes) di Ujung pandang, bandung dan palembang.

Sejak adanya kesepakatan lokakarya nasional (januari 1983) tentang pengakuan dan diterimanya keperawatan sebagai suatu profesi dan pendidikannya berada pada pendidikan tinggi, terjadi perubahan mendasar dalam pandangan tentang pendidikan keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi menekankan pada penguasaan keterampilan, tetapi lebih pada penumbuhan dan pembinaan sikap.

Tahun 1996 terdapat Akper sejumlah 227 buah. Dan ketentuan profesional keperawatan disertai dengan landasan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperatawan. Tahun 1983 merupakan tahun kebangkitan profesi keperawatan di indonesia. sebagai perwujudan laoka karya tersebut, tahun 1984 diberlakukan kurikulum nasional untuk Diploma III keperawatan.
Hal ini sejalan dengan UU No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 32 ayat 3 dan 4.

Tahun 1985 dibuka Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran UI dan kurikulum pendidikan tenaga keperawatan jenjang S1 juga di syahkan. Tahun 1992 merupakan tahun penting bagi profesi keperawatan, karena secara hukum keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi diakui dlm UU yaitu yg dikenal dgn UU No.23  thn 1992 ttg kes.
Tahun 1995 dibuka lagi Program Studi Ilmu Keperawatan di Indonesia yaitu di Universitas pajajaran Bandung dan Fakultas Kedokteran UI berubah menjadi Fakultas Keperawatan. Tahun 1998 dibuka kembali program S2 keperawatan yang ketiga yaitu Program  Studi Ilmu Keperawatan di universitas Gadjah Mada Yogyakarta.. Kurikulum Ners disahkan. Digunakannya kurikulum ini merupakan hasil pembaharuan  kurikulum S1 keperawatan tahun 1985.

Tahun 1999 program S1 kembali dibuka, yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Airlangga Surabaya, PSIK universitas Brawijaya Malang, PSIK di universitas Hasanudin Ujung Pandang, PSIK di universitas SUMUT, dan PSIK di universitas  Diponegoro jawa Tengah.

Tahun 2000 diterbitkan SK Menkes No.647 tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan sekaligus kekuatan hukum bagi tenaga perawat dalam menjalankan praktik keperawatan secara profesional.


BERPIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN

-              Berpikir kritis adalah reflektif, pemikiran yang masuk akal tentang masalah keperawatan tanpa ada solusi dan difokuskan pada keputusan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
-              Belajar untuk berpikir  secara kreatif dan mendalam memampukan perawat untuk merawat klien sebagai advokat.
-              Berpikir secara kritis menantang individu untuk menelaah asumsi tentang informasi terbaru.
-              Berpikir dan Belajar sebagai perawat profesional, perawat harus selalu melihat dan berpikir ke depan. Untuk berpikir secara kritis membuat perawat mampu belajar dan untuk secara positif mempengaruhi praktik keperawatan.

Model Berpikir Kritis

Kataoka-Yahiro dan Saylor (1994).
Telah mengembangkan suatu model tentang berpikir kritis untuk penilaian keperawatan.

Dasar pengetahuan Khusus.

-              Komponen pertama berpikir kritis adalah dasar pengetahuan khusus perawat dalam keperawatan.
-              Dasar pengetahuan beragam sesuai dengan program pendidikan dasar keperawatan dari jenjang mana perawat diluluskan sdan setiap gelar tingkat lanjut yang didapatkan perawat.

Pengalaman
·               Komponen kedua dari model bepikir kritis adalah pengalaman dalam keperawatan Kecuali perawat mempunyai kesempatan untuk berpraktek di dalam lingkungan klinik dan membuat keputusan tentang perawat klien, berpikir kritis tidak akan pernah terbentuk. Ketika perawat harus menghadapi klien, informasi tentang kesehatan  dapat diketahui dari mengamati, merasakan, berbicara dengan klien.

Kompetensi
Kompetensi berpikir kritis adalah proses kognitif yang digunakan perawat untuk membuat penilaian keperawatan.

Ada 3 tipe kompetensi :
1.       Berpikir kritis umum
2.       Berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis
3.       Berpikir  kritis spesifik dalam keperawatan.

Sikap Untuk berpikir Kritis
·               Berpikir kritis adalah sikap yang merupakan aspek sentral dari pemikir kritis. Sikap ini adalah nilai yang harus cara kritis ditunjukkan keberhasilannya oleh pemikir kritis.
·               Individu harus menunjukan keterangan kognitif untuk berpikir secara kritis, tetapi juga penting untuk memastikan bahwa keterangan digunakan secara adil dan bertanggung jawab.

Standar B’pikir Kritis
Mencakup standar intelegtual dan profesional.

Paul (1993) menemukan bahwa standard inteleqtual menjadi universal untuk berpikir kritis.
Ketika perawat memikirkan masalah klien, penting sekali menggunakan standard ini.

Kemampuan Berpikir Kritis :
·         Berpikir secara aktif dengan menggunakan inteligensia, pengetahuan dan keterampilan diri untuk menjawab pertanyaan.
·         Dengan cermat mengggali situasi dengan mengajukan dan menjawab pertanyaan yang relevan.
·         Berpikir untuk diri sendiri dan secara cermat menelaah berbagi ide.

Komponen Berpikir Kritis Dalam Keperawatan
Dasar Keperawatan Khusus dalam Keperawatan :Pengalaman Dalam Keperawatan.

KOMPOTENSI BERPIKIR KRITIS
1.      Kompotensi umuma
2.      Kompotensi khusus dlm situasi kritis
3.      Kompotensi khusus dlm kep

SIKAP UTK BERPIKIR KRITIS :
o   Percaya diri
o   Mandiri
o   Keterbukaan
o   t.gg gugat
o   Berani m’ngambil resiko
o   Disiplin
o   Ketekunan
o   Kreativitas
o   Rasa ingin tahu
o   Kerendahan hati

STANDAR UTK BERPIKIR KRITIS :

1.      Standar Intelektual
2.      Jelas
3.      Tepat
4.      Spesifik, t’buka
5.      Akurat, adekuat
6.      Relevan, signifikan
7.      Masuk akal, mendalam
8.      Konsisten, luas
9.      Logika, komplet

Standar Profesional :
-  Kriteria etis untuk penilaian keperawatan
-  Kriteria untuk evaluasi, tanggung jawab profesional.



TERIMA KASIH

Minggu, 20 Oktober 2013

ILMU DASAR KEPERAWATAN ELEKTROKARDIOGRAF (EKG)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Elektrokardiogram tetap merupakan standar emas dalam mengidentifikasi adanya dan lokasi dari infark miokard akut. ST elevasi pada infark miokard akut dapat memprediksi ukuran infark, responnya terhadap terapi reperfusi, dan memperkirakan prognosis dari pasien. Distorsi terminal komplek QRS pada infark miokard akut inferior adalah jika J-point dibandingkan dengan tingginya gelombang R lebih atau sama dengan 0,5 pada dua atau lebih sadapan inferior (sadapan II, III, aVF). Birnbaum dkk. menyatakan bahwa adanya distorsi QRS awal berhubungan dengan tingginya angka kejadian high-degree AV block.
Walaupun sebagian besar bersifat transien, high-degree AV block berhubungan dengan peningkatan angka kematian selama perawatan di rumah sakit, meskipun pasien mendapat terapi trombolitik. Bahan dan Cara Kerja : Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional terhadap pasien infark miokard akut inferior yang mendapat terapi trombolitik periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2004 yang dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, yang memenuhi kriteria inklusi dan a ksklusi.
Pasien dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu dengan distorsi QRS dan tanpa distorsi QRS. Hubungan antara dua variabel dinilai dengan uji t dan chi-square, serta analisis multivarian dengan logistic regression. Hasil Penelitian : Terdapat 186 subyek penelitian dengan rentang umur 37-72 tahun, lebih banyak pada laki-laki (89%), yang terdiri dari 93 pasien dengan distorsi QRS dan 93 pasien tanpa distorsi QRS. Tidak didapatkan perbedaan data dasar karakteristik Minis dari kedua kelornpok. Dui analisis univarian, kelompok dengan distorsi QRS memiliki jumlah deviasi segmen ST yang lebih tinggi (9,61±3,67 vs 7,76±3,53, p=0,001), dan mengalami kegagalan terapi trombolitik yang lebih besar (74,2% vs 60,2%, p=0,042).

1.2  Tujuan
Agar calon mahasiswa baru dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan elektrokardiogram ( EKG ) dan fungsi alat tersebut serta hal – hal lain yang berhubungan dengan elektrokardiogram ( EKG )


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  PENGERTIAN ELEKTROKARDIOGRAFI ( EKG ).
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Aktifitas listrik jantung dicatat dan direkam melalui elektroda – elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh.

2.2  ANATOMI JANTUNG DAN SISTEM KONDUKSI
Jantung terdiri dari 4 ruang yang berfungsi sebagai pompa, yaitu atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Hubungan fungsional antara atrium dan ventrikel diselenggarakan oleh jaringan susunan hantar khusus yang menghantarkan impuls listrik dari atrium ke ventrikel. Sistem tersebut terdiri dari nodus Sinoatrial (SA), nodus Atrioventrikuler ( AV), berkas His dan serabut Purkinje.

A.    Nodus SA
Terletak pada pertemuan antara vena kava superior dengan atrium kana. Sel-sel dalam nodus SA secara otomatis dan teratur mengeluarkan impuls dengan frekuensi 60-100 x/ menit.
B.     Nodus AV
Terletak diantara sinus koronarius pada dinding posterior atrium kanan. Sel-sel dalam nodus AV mengeluarkan impuls lebih rendah dari nodus SA yaitu 40-60 x/ menit.
C.     Berkas His
Nodus AV kemudian menjadi berkas His yang menembus jaringan pemisah miokardium atrium dan miokardium ventrikel, selanjutnya berjalan pada septum ventrikel yang kemudian bercabang menjadi dua menjadi berkas kanan dan berkas kiri ynag kemudian menuju endokardium ventrikel kanan dan kiri. Berkas tersebut bercabang menjadi serabut-serabut Purkinje.
D.    Serabut Purkinje
Serabut Purkinje mampu mengeluarkan impuls denagn frekuensi 20-40 x/ menit.


2.3  ELEKTROFISIOLOGI SEL OTOT JANTUNG
Sel otot  jantung dalam keadaan istirahat permukaan luarnya bermuatan positif dan bagian dalamnya bermuatan negatif. Perbedaan potensial muatan melalui membran sel ini kira-kira -90 milivolt. Ada 3 ion yang mempunyai peran penting dalam elektrofisiologi sel, yaitu Kalium, Natrium dan Kalsium.
Rangsangan listrik dapat secara tiba-tiba menyebabkan masuknya ion Natrium dengan cepat dari cairan luar sel ke dalam, sehingga menyebabkan muatan dalam sel menjadi lebih positif dibandingkan muatan luar sel. Proses terjadinya perubahan muatan akibat rangsangan dinamakan depolarisasi. Setelah depolarisasi, terjadi pengembalian muatan ke keadaan semula yang dinamakan repolarisasi. Seluruh proses tersebut disebut Aksi Potensial.

2.4  ELEKTROKARDIOGRAM.
Elektrokardiogram adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Kegiatan listrik jantung dalam tubuh dapat dicatat dan direkam melalui elektroda-elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh. EKG hanyalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang merupakan alat bantu dalam menegakkan diagnosis penyakit jantung. Gambaran klinis penderita tetap merupakan pegangan yang penting dalam menentukan diagnosis.
Untuk memperoleh rekaman EKG, dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat-tempat tertentu. Lokasi penempatan elektroda sangat penting diperhatikan, karena penempatan yang salah akan menghasilkan pencatatan yang berbeda.
Terdapat 2 jenis sandapan pada EKG, yaitu :
1.      Sandapan Bipolar
Dinamakan sandapan bipolar karena sandapan ini hanya merekam perbedaan potensial dari 2 elektroda, sandapan ini ditandai dengan angka romawi I,II dan III.
·         Sandapan I
Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan negatif dan tangan kiri bermuatan positif.
·         Sandapan II
Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan negative dan kaki kiri bermuatan positif.
·         Sandapan III
Merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kiri bermuatan negative dan kaki kiri bermuatan positif.

2.      Sandapan Unipolar
Sandapan unipolar terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
·         Sandapan unipolar ekstremitas
Merekam besar potensial listrik pada satu ekstremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada ekstremitas yang akan diukur. Gabungan elektroda-elektroda pada ekstremitas yang lain membentuk elektroda indiferen.

*aVR   : merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA) yang  bermuatan (+),dan elektroda (-) gabungan tangan kiri dan kaki kiri membentuk elektroda indifiren.
*  aVL   : merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA) yang bermuatan (+), dan muatan (-) gabungan tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda  indifiren.

*  aVF   : merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF) yang bermuatan (+) dan elektroda (-) dari gabungan tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda indifiren.
·         Sandapan unipolar prekordial
Merekam besar potensial listrik jantung dengan bantuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan pada beberapa tempat dinding dada. Elektroda indiferen diperoleh denagn menggabungkan ketiga elektroda ekstremitas.

v  Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum.
v  Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum.
v  Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4.
v  Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea (sekalipun detak  apeks berpindah).
v  Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris anterior.
v  Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea midaxillaris.

2.5  KERTAS EKG
Kertas grafik yang terdiri dari bidang horizontal (mendatar) dan vertikal (keatas), yang berjarak 1 mm (satu kotak kecil). Garis horizontal menggambarkan waktu, dimana 1 mm = 0.04 detik, sedangkan 5 mm = 0.2 detik. Garis vertikal menggambarkan voltase, dimana 1 mm = 0.1 mV, sedangkan 10 mm = 1 mV. Pada perekaman normal sehari-hari, kecepatan kertas dibuat 25 mm/detik, kalibrasi pada 1 mV. Bila dirubah harus dicatat pada setiap sandapan (lead).

2.6  Kurva EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi di atrium dan ventrikel. Proses listrik terdiri dari :
  • Depolarisasi atrium (tampak dari gelombang P)
  • Repolarisasi atrium (tidak tampak di EKG karena bersamaan dengan depolarisasi ventrikel)
  • Depolarisasi ventrikel (tampak dari kompleks QRS)
  • Repolarisasi ventrikel (tampak dari segmen ST)
Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T kadang-kadang tampak gelombang U.

EKG 12 Lead
Lead I, aVL, V5, V6 menunjukkan bagian lateral jantung
Lead II, III, aVF menunjukkan bagian inferior jantung
Lead V1 s/d V4 menunjukkan bagian anterior jantung
Lead aVR hanya sebagai petunjuk apakah pemasangan EKG sudah benar

Gelombang P
Gelombang P adalah representasi dari depolarisasi atrium. Gelombang P yang normal:
  • lebar < 0,12 detik (3 kotak kecil ke kanan)
  • tinggi < 0,3 mV (3 kotak kecil ke atas)
  • selalu positif di lead II
  • selalu negatif di aVR
Yang ditentukan adalah normal atau tidak:
  • Normal
  • Tidak normal:
  • P-pulmonal : tinggi > 0,3 mV, bisa karena hipertrofi atrium kanan.
  • P-mitral: lebar > 0,12 detik dan muncul seperti 2 gelombang berdempet, bisa karena hipertrofi atrium kiri.
  • P-bifasik: muncul gelombang P ke atas dan diikuti gelombang ke bawah, bisa terlihat di lead V1, biasanya berkaitan juga dengan hipertrofi atrium kiri.
 PR Interval
PR interval adalah jarak dari awal gelombang P sampai awal komplek QRS. Normalnya 0,12 – 0,20 detik (3 – 5 kotak kecil). Jika memanjang, berarti ada blokade impuls. Misalkan pada pasien aritmia blok AV, dll.
Yang ditentukan: normal atau memanjang.
Kompleks QRS
Adalah representasi dari depolarisasi ventrikel. Terdiri dari gelombang Q, R dan S. Normalnya:
  • Lebar = 0.06 – 0,12 detik (1,5 – 3 kotak kecil)
  • tinggi tergantung lead.
Yang dinilai:
- Gelombang Q: adalah defleksi pertama setelah interval PR / gelombang P. Tentukan apakah dia normal atau patologis. Q Patologis antara lain:
  • durasinya > 0,04 (1 kotak kecil)
  • dalamnya > 1/3 tinggi gelombang R.
Variasi Kompleks QRS
  • QS, QR, RS, R saja, rsR’, dll. Variasi tertentu biasanya terkait dengan kelainan tertentu.

- Interval QRS, adalah jarak antara awal gelombang Q dengan akhir gelombang S. Normalnya 0,06 – 0,12 detik  (1,5 – 3 kotak kecil). Tentukan apakah dia normal atau memanjang.

Tentukan RVH/LVH
Rumusnya,
  • RVH jika tinggi R / tinggi S di V1 > 1
  • LVH jika tinggi RV5 + tinggi SV1 > 35
ST Segmen
ST segmen adalah garis antara akhir kompleks QRS dengan awal gelombang T. Bagian ini merepresentasikan akhir dari depolarisasi hingga awal repolarisasi ventrikel. Yang dinilai:
  • Normal: berada di garis isoelektrik
  • Elevasi (berada di atas garis isoelektrik, menandakan adanya infark miokard)
  • Depresi (berada di bawah garis isoelektrik, menandakan iskemik)
Gelombang T
Gelombang T adalah representasi dari repolarisasi ventrikel. Yang dinilai adalah:
  • Normal: positif di semua lead kecuali aVR
  • Inverted: negatif di lead selain aVR (T inverted menandakan adanya iskemik)

3        Cara menilai ekg
Tentukan irama jantung (Rhytme).
     Irama teratur.
  HR = 60 – 100 x/menit.
  Gelombang “P” normal, setiap gelombang “P” selalu diikuti oleh kompleks “QRS”.
  Interval “PR” normal (0.12-0.20 detik).
  Kompleks “QRS” normal (0.06-0.12 detik).
  Semua gelombang sama.

Tentukan frekuensi.
  300 : (jumlah kotak besar pada interval “RR”).
  1500 : (jumlah kotak kecil pada interval “RR”.
  Bila kemungkinan bradikardi, atau denyut yang tidak teratur, ambil lead II sepanjang  6 detik, kemudian hitung jumlah kompleks QRS dikalikan 10.

Tentukan sumbu jantung.
  Lihat sandapan (lead) I
            Jumlahkan ketinggian R dan kedalaman S (+/-).
  Lihat sandapan (lead) aVF.
            Jumlahkan ketinggian R dan kedalaman S (+/-).
  Lalu buat gradien seperti gambar (slide 30).

Tentukan normal axis, axis bergerak ke kiri (LAD), axis bergerak ke kanan (RAD), atau indeterminate
  Hipertropi Atrium Kanan (RAH).
            Ditandai gelombang P yang lancip disebut P Pulmonal. Tinggi gelombang P diatas 0.25 mV. (2.5 kotak kecil) pada II, III, aVF.
  Hipertropi Atrium Kiri (LAH).
Ditandai gelombang P yang lebar disebut P Mitral. Lebar gelombang lebih dari 0.12 detik.

Tentukan ada tidaknya hipertropi.
  Hipertropi Ventrikel Kanan (RVH).
            Perbandingan tinggi gelombang R dengan gelombang S lebih dari 1.
  Hipertropi Ventrikel Kiri (LVH).
jumlah kotak kecil R pada lead I + S pada lead III >/ 25 mm atau Jumlah kotak kecil kedalaman S pada V1 ditambah jumlah kotak kecil R pada V5 atau V6 lebih dari 35 kotak.

Tentukan ada tidaknya iskemik atau infark miokard.
  Iskemik miokard ditandai tanda adanya ST Depresi atau gelombang T terbalik.
  Infark miokard ditandai dengan ST Elevasi (STEMI) atau Q patologis (Non STEMI).
  Infark septal pada V1 dan V2.
  Infark anterior pada V3 dan V4.
  Infark anteroseptal pada V1, V2, V3, dan V4.
  Infark lateral pada V5 dan V6.
  Infark inferior pada II, III, dan aVF.
  Infark ekstensif anterior pada I, aVL, V1 – V6.

Tentukan ada tidaknya tanda akibat gangguan elektrolit.
  Hiperkalemia : gelombang T lancip.
  Hipokalemia : adanya gelombang U.
  Hiperkalsemia : interval QT memendek.
  Hipokalsemia : interval QT memanjang.

2.7  Prosedur Perekaman EKG
  Persiapan Alat.
a.       Mesin EKG yang dilengkapi : kabel sumber listrik, kabel untuk bumi (ground), kabel elektroda : ekstremitas dan dada, plat elektroda ekstremitas dan pengikatnya, dan balon penghisap elektroda dada.
b.      Jelly.
c.       Kertas tissue.
d.      Gaas/kapas alkohol.
e.       Spidol.
f.       Kertas EKG.
g.      Pulpen. 

  Persiapan Pasien.
a.       Penjelasan tentang : tujuan pemeriksaan, hal-hal yang harus diperhatikan saat perekaman EKG.
b.      Dinding dada harus terbuka.

2.7  CARA KERJA ELEKTROKARDIOGRAF EKG
-          Nyalakan mesin EKG.
-          Baringkan pasien dengan tenang di tempat tidur yang cukup luas, tangan dan kaki tidak saling bersentuhan.
-          Bersihkan dada, kedua pergelangan tangan dan kaki dengan kapas alkohol (kalau perlu dada dan pergelangan kaki di cukur).
-          Keempat elektroda ekstremitas diberi jelly.
-          Pasang keempat elektroda ekstremitas tersebut pada kedua pergelangan tangan dan kaki.
-          Dada diberi jelly sesuai lokasi untuk elektroda V1 sampai V6.
-          Pasang elektroda dada dengan menekan karet balon penghisapnya.
-          Buat kalibrasi sebanyak 3 buah.
-          Rekam setiap lead, 3-4 beat.
-          Setelah selesai perekaman semua lead, buat kalibrasi ulang.
-          Semua elektroda dilepas.
-          Jelly dibersihkan dari tubuh pasien.
-          Beritahu pasien bahwa perekaman sudah selesai.
-          Matikan mesin EKG.
-          Catat : nama pasien, umur, tanggal dan jam pengambilan.
-          Bersihkan dan rapikan alat.


BAB III
HASIL PENILAIAN ELEKTROKARDIOGRAF ( EKG )


Nama pasien    : Tri Setiawan
            Umur               : 18 tahun
           
Hasil penilaian elektrokardiograf pada Lead II pada tabel di bawah ini sebagai berikut :
No
Nama Gelombang
Lebar
Tinggi
Positif ( + ) atau negative ( - )
Normal atau tidak normal
Nilai
1
Gelombang P
Normal
·         Lebar  ≤ 0,12 detik atau 3 kotak kecil
·         tinggi ≤ 0,3 mv atau 3 kotak
0,08
0,04
Positif ( + )
normal
-
2
Gelombang QRS
Normal
·         Lebar 0,06 – 0,12 detik
·         Dalamnya < 1/3 tinggi R


0,08

-
Normal
-
3
Gelombang Q
Normal
·         Lebar < 0,04 detik
·         Dalamnya < 1/3 tinggi R
0,04
1/3 Tinggi R
Negatif ( -)
Normal
-
4
Gelombang R
-
-
Positif ( + )
Normal
-
5
Gelombang S
-
-
Negatif ( - )
Normal
-
6
Gelombang T
-
-
Positif  ( + )
Normal
-
7
Gelombang U
-
-
-
-
-
8
Interval PR
Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
-
-
-
Normal
0,08 detik
9
Segmen ST
Normal –o,5 sampai +2mm
-
-
-
Normal
2mm


3.1  Frekuensi Jantung.
1.               300                   = 75 (NORMAL)            4
2.             1500                   = 75 ( NORMAL )         20

3.2  Irama Jantung
ü  Tidak teratur / ireguler
ü  Frekuensi jantung ( HR ) = 75
ü  Gelombang P ada dan normal
ü  Interval PR normal
ü  Gelombang QRS normal
3.3  Tanda Hipertrofi
Setelah diamati tidak ditemukan adanya hipertropi baik hipertropi kanan dan kiri,karena tidak adanya gelombang P yang lancip yang lebarnya 2.5 kotak kecil di hipertopi kanan. Sedangkan Hipertopi Kiri juga tidak ditemukan gelombang P yang lebar pada lead II.

3.4  Setelah disimpulkan bahwa hasil EKG di atas termsuk dalam ARITMIA SINUS, yaitu . Dimana aritmia sinus ini memiliki criteria yang sama dengan hasil EKG di atas,antara lain :
-          Irama                           : Tidak beraturan
-          Frekuensi ( HR )         : Biasanya antara 60-100 X/ menit
-          Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu di ikuti QRST
-          Interval                       : Normal, ( 0,12-0,20 detik )
-          Gelombang QRS        : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
·         Elektrokardiografi adalahilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Sedangkan Elektrokardiogram( EKG ) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung.
·         Sebuah pendekatan metodik sederhana yang dapat diterapkan pada setiap EKG. Setiap EKG harus didekati dengan cara berurutan, terutama kalau seorang perawat yang masih baru di bidang ini, sehingga tidak ada hal penting yang terlewatkan. Kalau perawat semakin banyak mengenal,membaca kardiogram, hal yang pada mulanya mungkin tampak terpaksa dan secara mekanik akan memberikan keuntungan besar dan akan segera menjadi seperti kebiasaan.
·         Gelombang P;gambaran proses depolarissi atrium.
Gelombang  QRS;gambaran proses depolarisasi ventrikel
Gelombang  T;gambaran proses repolarisasi ventrikel.
Gelombang U; timbul setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya
Interval PR; diukur dari permukaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS.

4.2 Saran
1.      Dengan adanya pembelajaran tentang EKG,maka kenalilah dulu pasien kita. Benar bahwa EKG saja dapat dibaca dengan cukup tepat, tetapi kekuataan alat ini baru betul-betul muncul bila diintregasikan dengan penilaian klinik secara total.
2.      Guna dalam pembacaan EKG,selanjutnya membacalah terus lebih banyak. Bacalah di mana pun Anda menemukan EKG, tidak hanya mengacu pada materi ini, tetapi bacalah dari berbagai sumber pengetahuan tentang EKG.Kenalilah lebih dalam dulu dasar-dasar tentang EKG,maka seorang perawat akan dapat menguasai materi dan mampu untuk mempraktekannya.